Popular Posts

Total Tayangan Halaman

©2014 Putra Buana T&T. Diberdayakan oleh Blogger.

PUTRA BUANA TNT BLOG

Setelah Dilanda Lumpur Lapindo UKM Tanggulangin Sidoarjo Masih Berdiri

Menengok Bisnis Pembuatan Tas Tanggulangin Setelah Lumpur Lapindo

UKM Tanggulangin
Lokasi : Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur

Tanggulangin adalah sebuah nama desa dan kecamatan di wilayah kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pada awal tahun 1980-an, desa ini terkenal sebagai pusat kerajinan aneka produk dari bahan kulit
seperti tas, koper, sepatu, dompet, ikat pinggang dan dompet. Seiring dengan terus meningkatnya harga bahan kulit, inovasi-inovasi dikembangkan dengan digunakannya bahan non kulit seperti kain katun, kain oscar, semi kulit, kulit imitasi dan kain parasit. Hasil kreasi para pengrajin pun semakin menarik dan banyak variasinya.
Pada tahun 1990-an hingga tahun 2006, desa Tanggulangin berubah total dari sebuah desa yang sunyi dan asri menjadi desa yang begitu ramai dikunjungi pedagang dan wisatawan. Pada hari-hari biasa, lebih dari 10 bus pariwisata berukuran besar masuk ke desa ini. Pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur lainnya, puluhan bus pariwisata bisa membuat sesak jalanan desa Tanggulangin.
Masa kejayaan itu tiba-tiba runtuh oleh keberadaan semburan lumpur pada fasilitas pengeboran minyak dan gas milik PT. Lapindo Brantas di kota kecamatan Porong yang merupakan akses utama untuk memasuki wilayah desa Tanggulangin. Jalon tol Sidoarjo – Gempol harus terputus, pasar Porong dan jalan raya utama provinsi yang melewatinya sering tergenang lumpur. Aktivitas pengurukan jalan dan tanggul untuk menanggulangi luberan lumpur telah membuat perekonomian di wilayah Jawa Timur tersendat. Angkutan barang dan penumpang sering terhambat oleh keberadaan jalan raya Porong dan jalan tol Sidoarjo-Gempol yang setiap hari macet total. Kota Malang, Pasuruan dan Probolinggo yang merupakan pusat kunjungan wisata menjadi sulit dijangkau. Desa Tanggulangin persis berada di sebelah utara pasar Porong dan  sangat sulit untuk dijangkau baik oleh para pedagang maupun oleh para wisatawan.
Dalam waktu sekejap, Tanggulangin menjadi sebuah desa yang sunyi kembali. Nyaris tidak ada aktivitas pengunjung yang hiruk pikuk dan membuat jalanan desa ramai. Kalaupun ada kendaraan yang lewat, biasanya adalah pengendara yang terjebak macet di jalan raya Porong dan sedang mencari jalan alternatif. Showroom-showroom dengan desain sederhana hingga yang exclusive sangat sepi pengunjung, tidak ada kendaraan yang parkir. Penjualan di pusat kerajinan tas dan sepatu itu langsung menurun secara drastis.
Pemerintah melalui Departemen Industri dan Perdagangan tidak tinggal diam. Para pengrajin yang telah membentuk organisasi paguyuban dan koperasi Industri Tas dan Koper (INTAKO) diajak untuk berfikir keras dan mencari jalan keluar bersama. Inovasi-inovasi dan kreativitas dalam menjalankan strategi pemasaran harus segera dilaksanakan.
< >

Tidak ada komentar:

Posting Komentar